|

5 Cara memilih jenis profil risiko investasi reksadana anda

profil risiko, cara memilih profil risiko, moderat, konservatif, agresif
4–7 minutes

profil risiko Sudah siap investasi reksadana tapi bingung pilih yang mana?

Ada ratusan produk reksadana di Indonesia—dari yang aman tapi return kecil, sampai yang agresif dengan potensi untung besar.

Inilah masalahnya: Cara Memilih reksadana tanpa memahami profil risiko Anda seperti membeli sepatu tanpa tahu ukuran kaki—tidak akan cocok dan malah bikin merugi.

Mari kita mulai.


Apa Itu Profil Risiko Investor?

Profil risiko adalah tingkat kemampuan dan kemauan Anda dalam menerima fluktuasi nilai investasi. Menurut panduan OJK (Otoritas Jasa Keuangan), profil risiko dibagi menjadi tiga jenis profile risko utama: konservatif, moderat, dan agresif.

Bayangkan seperti ini:

  1. Investor konservatif seperti pengemudi yang selalu pelan-pelan—aman tapi perjalanan lebih lama.
  2. Investor agresif seperti pembalap—cepat sampai tujuan tapi risiko tinggi.
  3. Investor moderat ada di tengah-tengah.

Yang penting dipahami:

Tidak ada profil risiko yang “lebih baik”—yang ada hanya yang paling sesuai dengan kondisi keuangan dan psikologi Anda.

Mengapa Memilih Reksadana Sesuai Profil Risiko Itu Penting?

Salah satu kegagalan investor pemula adalah mereka menjual reksadana terlalu cepat

—bukan karena produknya buruk, tapi karena salah pilih jenis reksadana yang tidak sesuai toleransi risiko mereka.

Tanpa memahami profil risiko:

  • Panik selling saat pasar turun – Anda jual rugi karena tidak tahan mental melihat NAB merah.
  • Kehilangan potensi return – Pilih reksadana terlalu aman padahal sebenarnya mampu ambil risiko lebih.
  • Target keuangan meleset – Reksadana pasar uang tidak akan cukup untuk pensiun 20 tahun lagi.

Dengan memilih sesuai profil risiko:

  • Tidur nyenyak – Fluktuasi pasar tidak bikin stres karena sudah sesuai ekspektasi
  • Konsisten investasi – Tidak panik jual saat rugi, tetap auto-debit rutin
  • Capai target lebih cepat – Return optimal sesuai kemampuan toleransi risiko Anda

Pelajari juga: Apa Itu Reksadana? Panduan Lengkap untuk Pemula

5 Hal yang Harus Anda Perhatikan Saat Memilih Reksadana

1. Kenali Profil Risiko Anda Dulu

Sebelum pilih produk, jawab pertanyaan ini:

  • Tujuan investasi:
    Jangka pendek (<3 tahun)
    Jangka menengah (3-5 tahun)
    Jangka panjang (>5 tahun)
  • Toleransi kerugian: Kalau investasi turun 20% dalam sebulan, apa yang Anda lakukan?
  • Kondisi keuangan: Sudah punya dana darurat 6-12 bulan? Punya penghasilan tetap?

3 Profil Risiko Utama:

Konservatif – Hindari risiko, prioritas menjaga modal

  • Cocok untuk: Dana darurat aktif, tujuan <3 tahun, mendekati pensiun
  • Reksadana: Pasar Uang (return 4-6%/tahun, risiko sangat rendah)

Moderat – Siap terima risiko sedang untuk return lebih baik

  • Cocok untuk: Dana pendidikan 3-5 tahun, investor pemula yang belajar
  • Reksadana: Pendapatan Tetap atau Campuran (return 6-12%/tahun, risiko sedang)

Agresif – Siap terima volatilitas tinggi untuk maksimalkan return

  • Cocok untuk: Pensiun >10 tahun, usia muda dengan penghasilan stabil
  • Reksadana: Saham (return potensial 10-20%/tahun, risiko tinggi)

Tips Pro: Gunakan kuesioner profil risiko di platform seperti Bibit atau Bareksa sebelum memilih produk.

Hasil kuesioner akan merekomendasikan alokasi yang sesuai untuk Anda.

2. Cek Track Record Manajer Investasi Minimal 3 Tahun

Performa 1 tahun bisa kebetulan—performa konsisten 3-5 tahun adalah skill.

Yang harus dicek:

  • Return konsisten: Bandingkan dengan benchmark (IHSG untuk saham, indeks obligasi untuk pendapatan tetap)
  • Sharpe Ratio: Makin tinggi = makin baik return dibanding risiko yang diambil
  • Maximum Drawdown: Seberapa dalam penurunan terburuk? Apakah Anda sanggup mental?

Contoh perbandingan:

Reksadana (RD)Return 3 TahunMax DrawdownSharpe Ratio
RD Saham A+45%-25%1.2
RD Saham B+50%-40%0.8

RD Saham A lebih baik meskipun return lebih rendah—karena risikonya lebih terkontrol (max drawdown dan Sharpe Ratio lebih baik).

Cek di mana: Database reksadana OJK, Infovesta, Bareksa Fund Award, platform investasi Anda.

3. Perhatikan Biaya-Biaya (Expense Ratio & Fee)

Return 10% tapi expense ratio 2,5%? Net return Anda cuma 7,5%—selisih 2,5% per tahun itu besar kalau dikalikan 20 tahun!

Jenis biaya reksadana:

Subscription Fee (Biaya Pembelian): 0-1%

  • Banyak platform digital sudah 0% untuk tarik investor
  • Jika ada, maksimal 1% masih wajar

Redemption Fee (Biaya Penjualan): 0-2%

  • Biasanya berlaku jika jual dalam <1 tahun (early redemption)
  • Semakin lama hold, semakin kecil fee-nya

Management Fee (Biaya Pengelolaan): 1-3% per tahun

  • Otomatis dipotong dari NAB setiap hari
  • Reksadana saham: 1,5-3%
  • Reksadana pendapatan tetap: 1-1,5%
  • Reksadana pasar uang: 0,5-1%

Expense Ratio Total: Cek di fund fact sheet

  • Pasar uang: <1%
  • Pendapatan tetap: 1-2%
  • Saham: 2-3%

Rule of thumb: Pilih expense ratio di bawah median kategori. Expense ratio 3,5% untuk reksadana saham = terlalu mahal.

4. Ukuran Dana Kelolaan (AUM) yang Ideal

AUM (Asset Under Management) adalah total dana investor yang dikelola oleh reksadana tersebut.

Terlalu kecil (<Rp50 miliar):

  • Risiko: Bisa dilikuidasi (ditutup) kapan saja kalau tidak menguntungkan buat MI
  • Kurang efisien: Biaya operasional tinggi per unit

Terlalu besar (>Rp10 triliun untuk reksadana saham):

  • Susah manuver: Sulit keluar-masuk saham tanpa menggerakkan harga pasar
  • Potensi return terbatas: Tidak bisa fokus di small-cap yang high-growth

Sweet spot:

  • Reksadana pasar uang/pendapatan tetap: Rp500 miliar – Rp5 triliun
  • Reksadana saham: Rp1 triliun – Rp7 triliun
  • Reksadana campuran: Rp500 miliar – Rp3 triliun

Cek di mana: Fund fact sheet (biasanya di halaman 1), website Manajer Investasi, atau platform investasi Anda.

5. Diversifikasi: Jangan Taruh Semua Telur di Satu Keranjang

Bahkan setelah pilih reksa dana yang tepat, diversifikasi tetap penting.

Strategi alokasi berdasarkan profil risiko:

Konservatif:

  • 80% Reksa Dana Pasar Uang
  • 20% Reksa Dana Pendapatan Tetap

Moderat:

  • 30% Reksa Dana Pasar Uang (likuiditas)
  • 40% Reksa Dana Pendapatan Tetap
  • 30% Reksa Dana Saham

Agresif:

  • 10% Reksa Dana Pasar Uang (dana darurat)
  • 20% Reksa Dana Pendapatan Tetap
  • 70% Reksa Dana Saham

Plus: Diversifikasi antar Manajer Investasi

  • Jangan semua reksa dana dari 1 MI
  • Spread di 2-3 MI berbeda (Sucorinvest, Mandiri, Schroders, dll)
  • Kalau satu MI underperform, yang lain bisa balance

Baca juga: Strategi Diversifikasi Portfolio Reksa Dana


⚠️ DISCLAIMER

Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan informasi umum. Konten ini bukan merupakan saran investasi, rekomendasi pembelian/penjualan, atau nasihat keuangan profesional.

Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda. Kami menyarankan Anda untuk:

  • Melakukan riset mandiri sebelum berinvestasi
  • Berkonsultasi dengan Perencana Keuangan berlisensi (CFP) jika diperlukan
  • Memahami risiko investasi dan membaca prospektus produk dengan seksama

Kinerja investasi di masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan. Data dan informasi dalam artikel ini akurat per tanggal publikasi. Silakan verifikasi informasi terkini melalui sumber resmi seperti OJK.


Kesimpulan

Memilih reksa dana sesuai profil risiko bukan tentang mencari produk dengan return tertinggi—tapi tentang menemukan keseimbangan antara potensi keuntungan dan kemampuan mental Anda menerima risiko.

Intinya: Kenali profil risiko Anda dulu, lalu perhatikan 5 hal krusial ini:

  1. profil risiko yang jelas
  2. track record MI minimal 3 tahun
  3. biaya yang reasonable
  4. AUM yang ideal
  5. diversifikasi yang tepat.

    Langkah selanjutnya: Isi kuesioner profil risiko hari ini, riset 3-5 produk reksa dana yang sesuai, dan mulai investasi pertama Anda—bahkan dengan Rp100.000 sudah bisa dimulai.

    Baca Juga:

    Similar Posts